SLIDER

Sunday, February 25, 2018

Bikepacking Bromo - Probolinggo Day -5 "Gili Ketapang Surga yang padat"

 
 
Selamat Pagi ….. Pagi ini Probolinggo cuaca lumayan Cerah, agenda pagi ini adala berwisata ke salah satu spot di Probolinggo. Setelah dalam perencanaan sebelumnya saya sudah googling dan menemukan salah satu destinasi wisata ini, yaitu sebuah pulau yang terletak tidak jauh dari Probolinggo. Yuuups setelah bersiap kita menuju resepsionis terlebih  dahulu mau perpanjangan menginap lumayan dapat potongan harga :D di ruang resepsionis ada seorang laki - laki yang mungkin kenalan penjaga kita ngobrol melihat kita yang penampilannya turis banget dia pun mengajak kita ngobrol dari info yang kita dapat kita cukup bersyukur karena dia mengatakan bahwa di musim hujan begini memang tidak disarankan untuk pergi ke Air Terjun Madakaripura karena treknya yang telalu licin dan ada sungai yang kadang meluap waaaw kita sedikit lega karena kita kemarin tidak sempat ke Madakaripura. Kita dapat info juga bahwa ternyata kita bisa membawa sepeda kita menuju destinasi kita selanjutnya dengan biaya tambhan yeesss aku cukup gembira mendengarnya. Tanpa banyak obrolan lagi maka kita langsung cuus berangkat menuju tujuan selanjutnya …


Day Five , Friday 29 Desember 2017

Untuk menuju pulau tujuan kita kali ini, dari penginapan kita di jalan Suyoso kita menuju pelabuhan Tanjung Tembaga yang hanya berjarak 2 kilometer cukup melihat rute via map di Android kita dengan mudah menemukan jalan menuju pelabuhan. Sebelum menuju pelabuhan kita mencari sarapan terlebih dahulu pilihan saya tertuju pada warung nasi sederhana yang terletak tidak jauh di depan pintu masuk pelabuhan. Ddisini kita Cuma pesan satu piring nasi pecel miss Nana yang lebih butuh sarapan, sedangkan aku lagi tidak berselera sarapan pecel jadi Cuma mengamati saja. Selesai sarapan kita langsung menuju pelabuhan, di pintu masuk aku sempat bertanya kalau mau menyeberang ke Gili Ketapang di dermaga sebelah mana, dan kita di beri tahu untuk lurus terus ke arah kiri. Kita pun langsung masuk mengikuti petunjuk, errr kita tidak ditarik biaya saat masuk dengan sepeda kita thank you ::D. 




Sempat kebingungan ketika mengikuti rute karena kita semakin masuk ke dalam justru seperti menjauh dari dermaga dan mendeketati pergudangan, kita mengikuti saja jalan yang ada pasrah akan membawa kita sampai ke ujung mana. Saat melihat ada beberapa mobil lewat di arah yang sama aku cukup lega hingga ketika memasuki area di mana mobil - mobil tersebut mulai parkir di area bangunan seperti warung - warung dari bambu, aku berpikir mungkin itu penyeberangan ke Gili. Saat kita mendekat ada seorang bapak - bapak yang berteriak bertanya "Gili … Gili…"

Aku pun menyamperin si Bapak dan bertanya "Perahu ke Gili Pak..?"

 "Ya … sepeda parkir sini, ooh atau mau di bawa?"
"iya kalau di bawa tambah berapa ..?"
"lima ribu ya.."
"berarti sama orang dua puluh lima ribu?"
(sedikit bingung) "iyah"
Si bapak pun langsung membawa sepeda kita dan dinaiki menuju perahu

Dermaga untuk perahu tambat menuju Gili Ketapang hanya dermaga biasa untuk perahu nelayan, sehingga tidak ada dermaga untuk naik ke perahu kecuali pinggiran tanggul yang batu nya sediki di kikis. Di perahu sudah ada beberapa penumpang yang menunggu. Perahu ke Gili Ketapang berbeda dengan perahu yang biasa kita naiki untuk menyeberang ke Pulau Panjang maupun Gili Trawangan, jika ke dua pulau tersebut perahu adalah perahu yang telah di modif dengan tempat duduk maka untuk ke Gili Ketapang tidak ada tempat duduk hanya perahu nelayan biasa sehingga kita lesehan diatas papan perahu. Kita harus menunggu perahu penuh terlebih dahulu baru perahu akan jalan (saya udah baca soal ini jadi saya sih santai saja menunggu perahu penuh sedang penumpang lain ada beberapa yang mulai ribut :p). Sekitar 10 menit kita pun mulai di tarik bayaran, oleh seseorang berseragam biru pelabuhan, saya memberi 50 ribu dan dikembalikan 25 ribu agak bingung ternyata tadi 25 ribu adalah tarif untuk 2 orang ahahahah 

Tarif penyeberangan ke Gili Ketapang adalah Rp. 7000 per orang untuk sekali menyeberang waaah

Gili Ketapang

Adalah salah satu pulau yang masih termasuk wilayah administratif Probolinggo, terletak di sebelah utara Probolinggo tepatnya 8 kilometer di selat madura, sehingga kita harus menyeberang menggunakan perahu dengan jarak tempuh sekitar 20-25 menit. Dengan luas sekitar 86 ha di huni oleh sekitar 7600 penduduk Gili Ketapang masuk wilayah administratif kecamata Sumberasih Probolinggo, namun ternyata di Pulau Gili Ini sendiri juga dibagi menjadi sekitar 4-5 desa. Dihuni oleh sekitar 7600 jiwa penduduk  yang mayoritas adalah orang madura, dengan luas 86 ha pulau Gili Ketapang ini menjadi pulau yang padat penduduknya. Ingat Padat. 


Setelah terombang - ambing diperahu di atas selat madura selama 30 menit sedikit lebih lama daripada saat menyeberang ke Pulau panjang kita mulai melihat gugusan Gili Ketapang, hingga perahu ditambatkan di dermaga. Karena pulau Gili Ketapang ini adalah pulau berpenduduk maka perahu penyeberangan pun bukan hanya berisi turis wisatawan namun juga para penduduk gili ketapang yang mondar mandir ke probolinggo dan Gili. Selain itu juga ada para pedagang dari Probolinggo yang mencari nafkah di kawasan wisata Pantai Gili Ketapang, seperti bapak penjual Cilok dengan sepedanya yang ikut menyeberang bersama kita, dia berjual di kawasan pantai di Gili Ketapang. Sebetulnya kawasan pantai barat yangmerupakan area snorkling terletak tidak jauh dari dermaga selatan tempat perahu kita tertambat, namun kita berniat untuk berkeliling pulau terlebih dahulu. Sebetulnya aku sudah tahu bahwa Gili Ketapang ini cukup padat, diingat ya "Padat" namun aku berfikir cukup mengikuti jalan ke arah kiri dan memutar pasti juga akan bisa berkeliling pulau. Namun apa daya kepadatan penduduk dengan bangunan rumah yang sangat padat .. Ingat ya padaaaat dan berdekatan serta tidak beraturan membuat kita beberapa kali salah jalan alias tersesat, hadeeeh karena bahkan mengikuti google map pun kita masih saja tersesat akhirnya setelah berputar - putar tidak jelas kita memutuskan untuk kembali ke pantai Barat, setelah bertanya - tanya arah. Kita menuju pantai barat. 



Kawasan wisata di Gili Ketapang ini memang terpusat di pantai barat, dengan pantai pasir putih yang halus dan air lau yang bening, sehingga wisatawan bukan hanya menikmati pemandangan laut juga pasir pantai nya namun bisa menikmati wisata bawah air atau snorkling. Terdapat area penyewaan snorkling juga di kawasan pantai barat ini. Oiya sebetulnya sih banyak agen yang menyediakan paket snorkling di Gili Ketapang sudah include tiket penyeberangan, peralatan snorkling, perahu ke spot snorkling juga makan siang. Namun karena aku ingin berkeliling pulau sendiri dan juga pasti tidak akan terjun ke air hanya mis Nana so kita tidka ikut paket snorkling. Di pantai barat kita cukup menikmati suasana pantai pasir putihnya. Pantai barat Gili ketapang ini juga dikenal dengan pantai Ekor karena panjang pantaninya hingga menjorok ke tengah laut seperti ekor dari pulau. Ini juga yang menjadi khas daya tarik Gili Ketapang. Tapi kalian harus hati - hati ya kalau ke bagian ekor ini, karena terletak di tengah laut jadi jangan asal - asalan nyemplung aja. 


Setelah berfoto - foto di daerah pantai kita menuju ke bagian warung - warung untuk mengisi perut, menu kali ini Bakso, so kali ini miss nana saja yang kembali memakannya.  Beruntung aku menemukan warung menjual mie goreng so aku bisa menikmati mie goreng sepiring dan air jeruk. Kita bersantai sejenak di gazebo yang disediakan. Sambil menikmati pemandangan pantai. Miss Nana sempat berganti baju renang untuk nyemplung menikmati laut aku sih nyantai di hammock saja. Di saat bersantai kita ditemani oleh kambing.! Iyaa kambing!! Di pulau gili ketapang ini banyak kambing yang dikembang biakan so jangan heran kalau kamu ke gili dan berjemur di pantai tiba - tiba di cium kambing yah :D. dan satu yang disayangkan adalah karena penduduknya yang padat adalah sampah!! Iyaa sebetulnya dengan luas pulau 86ha gili Ketapang  dikelilingi pantai pasir putih di tiap sisinya, namun tidak semua tempat bersih karena penuh dengan sampah memang sangat disayangkan. Beruntung masih ada satu sisi pantai barat yang bisa terselamatkan untuk bisa dikelola menjadi kawasan wisata. So kalau kalian berkunjung ingat yaa jangan menambah tumpukan sampah!. 


Kawasan pantai Barat Gili Ketapang




Setelah merasa cukup menikmati pantai, kita memutuskan untuk menyeberang kembali ke Probolinggo. Karena penyeberangan katanya hanya sampai pukul 4 sore. So kita bergegas saja, untuk kembali ke Probolinggo kali ini kita menuju bagian sisi yang lain yaitu dermaga bagian utara. Karena kita bawa sepeda so kita gowes aja, beberapa wisatawan menyewa jasa ojek untuk diantar ke dermaga utara. Well seperti biasa jalanan padat di kawasan Gili ini cukup membingungkan namun akhirnya kita menemukan juga dermaga utara ini. Sudah ada perahu yang tertambat, kita pun naik ke perahu dan seperti biasa kita menunggu perahu penuh terlebih dahulu. Kali ini kita menunggu lumayan lama hampir 30 menitan. Ahahaha. … puyeng - puyeng ..deh diombang - ambing di atas perahu nungguin penumpang penuh.  Setelah 30 menit dan penumpang mulai penuh, perahu pun berangkat, kali ini yang meminta karcis adalah bapak - bapak penjual es dung dung yang akan menyeberang kembali ke Probolinggo, dia pun tampak bingung ketika aku memberikan 25 ribu untuk 2 orang yang taris sebenarnya hanya 14 ribu :p . Di perjalanan pulang awan mendung mulai menggelayut dan menutupi langit, seolah - olah bersiap menumpahkan air dari langit. Dan betul juga setelah perahu tertambat, di perjalnaan menuju penginapan hujan mulai turun, beruntung jarak yang kita tempuh tidak terlalu jauh. 


Dan hujan pun ternyata awet sampai malam hari, terpaksa kita malam hari pun keluar mencari makan tetap dengan memakai jas hujan.  Esok nya kita masih berwisata menikmati kota Probolinggo tunggu cerita selanjutnya ya ….

To Be Continued …

Tuesday, January 16, 2018

Gowes Bromo Day 4 Back to Probolinggo "Bromo i'll be Back!"


Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) merupakan salah satu taman nasional yang terletak di Jawa Timur, Secara administratif terletak di 4 Kabupaten, yaitu Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Probolinggo. Salah satu taman nasional yang sangat terkenal hingga di mancanegara karena pemandangannya yang memukau, yang menarik dari TNBTS adalah kompleks gunung yang dekelilingi oleh kaldera lautan pasir seluas 6290Ha batas kaldera berupa dinding bukit setinggi 200-700 m itulah yang kemarin kita daki dan turunan ketika memasuki kawasan TNBTS, sedang luas TNBTS sendiri sekitar 50.276,3 Ha. Terdapat beberapa gunung di area lautan pasir TNBTS yaitu gunung Batok yang justru leih sering dijadikan sebagai background foto bila berkunjung ke TNBTS, Gunung Bromo, Gunung Semeru. Karena terletak di 4 kabupaten maka  Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Bromo terdapat beberapa pintu masuk. Yang pertama pintu masuk wonokitri, pintu masuk Wonokitri bisa diakses dari Malang via jalur Nongkojajar, jalur Nongkojajar sangat dekat dari kota Malang namun jalur ini mempunyai trek yang sempit dan sulit di akses karena kecuraman tanjakan dan kelokan tajamnya. Jalur kedua via Tosari dari Pasuruan, dari Tosari sama seperti Nongkojajar nanti akan tiba di terminal Wonokitri yang lebih dekat ke Penanjakan 1. sedang pintu masuk selanjutnya terletak di Cemoro Lawang, bagi wisatawan yang berangkat dari Surabaya via Probolinggo bisa menuju ke TNBTS melalui jalur Cemoro Lawang. Bisa Via bayeman - Lumbang maupun   Jl. Bromo di Probolinggo, semuanya akan tiba di terminal Sukapura dan lanjut ke Cemoro Lawang. Dari Cemoro Lawang kita lebih dekat ke Penanjakan 2. 
 



Ketika bikepacking ke Bromo kemarin, karena kita menginap di Probolinggo kita mengambil jalur Cemoro Lawang. Yaitu start dari Probolinggo - Jl. Bromo - Terminal Sukapura - Sapikerep - Cemara Lawang. Jarak yang kita tempuh sekitar 45 km. dengan rincian kurang lebih nih kalau ga salah ingat, 7 kilometer awal dari Penginapan di probolinggo hingga terminal Probolinggo di Jl. Bromo trek masih datar, setelah itu 10 kilometer berikutnya hingga Jl. Raya Bromo trek udah menanjak halus, kita sarapan di Kilometer ke 16. nhaah setelah sarapan ini memasuki kilometer ke 20 hingga sukapura sejauh 15 km, jalan sudah di dominasi tanjakan dan menanjak, alias selain jalan miring ke atas kita akan menemui beberapa tanjakan. Jalur yang kita lewati hingga sukapura cukup lebar dan sepi, saat itu hampir tidak menemui antrian kendaraan pribadi yang mungkin sedang liburan, namun kita justru menemui banyak truk karena adanya proyek jalan Tol Pasuruan - Probolinggo. Dari Sukapura - CemaraLawang jarak sekitar 15 kilometer, namun jalan didominasi kemiringan terjal ke atas, alias miring keatas tapi lebih terjal, dan berkelak - kelok, jalan berupa aspal dan cukup lebar, setelah melewati pasar Sukapura kita sudah mulai menemui Jeep - Jeep untuk wisata ke Bromo, setelah memasuki sapikerep mungkin tapi masih sukapura juga, kita terkadang menemui trek rolling. Semakin ke atas kita melewati pemandangan yang indah tapi masih di dominasi rolling dan tanjakan.

Day 4, Thursday 28 january 2018

Tidak mudah memang bagi kita berdua gowes dari Probolinggo hingga ke Cemaralawang, dimana 31 Km ke Sukapura kita sudah disuguhi tanjakan, dan 15 Km Sukapura - Cemaralawang tanjakan yang sebenarnya menanti. Kelelahanku tiga hari ini semenjak hari pertama terjawab di hari ketiga dengan demam nya suhu badanku hingga 39 celcius. Mungkin karena hawa dingin di gunung, yang membuatku tidak sadar bahwa sebetulnya badanku demam sejak pagi. Itulah mengapa semenjak keluar dini hari aku sudah merasa lemas dan ada sesuatu yang salah di tubuhku karena terasa berat dan tidak bersemangat. Untunglah setelah meminum obat siang harinya demam ku sudah mulai turun meskipun belum yakin apakah besok demam ku tidak akan datang lagi dan sudah betul - betul membaik. 

penginapan kita di cemaralawang

kamar kita di homestay kamar kita plus kamar mandi dalam
Malam itu mungkin karena efek samping obat yang kuminum semalam sebelumnya atau memang aku butuh tidur, aku betul - betul tertidur nyenyak, meskipun kadang terbangun - bangun mata dan tubuh ini terasa sangat berat untuk diajak bangun. Hingga akhirnya jam menunjukkan pukul 6 pagi, aku pun bangun hanya untuk cuci muka dan gosok gigi. Sekali lagi maaf ya kita melewatkan jatah mandi. Tubuhku sudah terasa agak ringan sehingga cukup punya kekuatan untuk packing, sekitar pukul 7.30 kita sudah diberi tahu bahwa sarapan telah siap. Kita berdua pun menikmati sarapan di ruang tamu. Seperti yang kuceritakan di hari sebelumnya bahwa penginapan di kawasan Cemaralawang memang akan sepi di pagi hari, karena tamu yang biasa datang sore atau malam harinya sudah akan berangkat untuk tur sejak dini hari dan kembali sekitar pukul 10 - 11 paginya.  Setelah sarapan kitapun berpamitan, bersiap memasang pannier kita menuju terminal camara lawang, meski terminal bukan berarti terminal dalam artian sesungguhnya, namun tempat oper pelancong dengan kendaraan umum menuju kota terdekat, kita mendapat info sebelumnya dari traveler di depan kamar kita, bahwa di pertigaan depan pintu masuk TNBTS terdapat kendaraan umum yang membawa kita ke kota. Maka kita pun menuju kesana. 



peritgaan tempat kendaraan umum ke probolinggo
Yeeep dengan keadaan tubuhku yang sangat drop sehari sebelumnya aku memang tidak yakin bahwa hari ini bisa melanjutkan perjalanan nyepeda, maka untuk amanya kita berencana untuk naik kendaraan umum saja. Alternatif lain adalah dengan naik pick up sayur, kita diberi info bahwa setiap pagi pukul 7 hingga 11 akan banyak pick up pengangkut sayur maupun peladang dari cemaralawang ke Sukapura kita bisa nebeng pickup tersebut kebawah. Saat menuju pertigaan kita sempat melihat pick up yang dimaksud tapi kita belum berniat naik. Kita tetap menuju pertigaan terminal cemara lawang depan pintu masuk TNBTS kita berfoto sejenak sambil mencari - cari kendaraan umum yang dimaksud, ketika berfoto kita melihat sebuah mobil Elf dimana ada seorang seperti kenek yang langsung mencegat para penumpang jeep yang baru turun dari jeep setelah selesai tur dengan mengatakan "probolinggo - probolinggo berangkat masih ada terakhir" aku dan miss Nana sempat berfikir mungkin elf itu adalah kendaraan yang dimaksud sebagai kendaraan umum menuju probolinggo, aku dan miss nana sempat berpikir bahwa mungkin kendaraan umum tersebut berupa L300 colt yang lebih longgar dan ada rak diatas untuk sepeda kita. Karena memang banyak elf yang sepertinya mengangkut travelers ke Probolinggo maka aku dan miss Nana ragu untuk naik itu karena sepertinya akan tidak mungkin membawa sepeda kita di dalam Elf. 






Disekitar itu sebetulnya kita juga melihat beberapa mobil L300 yang berhenti kita berharap mobil itu juga kendaraan umum namum karena tidak menemukan sopir aku pun mengatakan bahwa kita gowes saja. Yaa dengan niat dan kekuatan berharap aku bisa cukup kuat untuk gowes. Miss Nana pun Setuju dengan catatan kita turun pelan - pelan dan mungkin akan banyak berhenti. Setelah diberi tahu jalur turun lebih bersahabat bila melalui penginapan kita, maka kita kembali turun menuju penginapan ke arah sukapura. Yaah memang benar jalur yang kita ambil lebih bersahabat, jalanan nya lebih luas dan tidak banyak mobil jeep. Maka kita pun bisa bebas untuk behenti berfoto dan istirahat. Tiba di pertigaan "Bromo" dimana pertemuan dari turunan tajam dan jalur kita, kita mulai berpapasan dengan banyak jeep yang juga turun mengantar penumpang ke bawah. Kita pun tidak ngoyo dan turun pelan - pelan. Ketika turunan mulai panjang, kita sempat berhenti lagi untuk memberi nafas kampas rem yang bakalan panas menggesek rim roda. Beruntung di bawah bukit di antah berantah ada satu warung sederhana dimana kita bisa mampir untuk istirahat, dan memesan the hangat dan ngemil gorengan panas. Si Ibu penjaja warung sudah cukup berumum menjajakan camilan seadanya di samping warungnya ada api unggun dan para pemuda yang menghangatkan diri. Harga the dan jajanannya cukup murah, satu gelas es the, rambak, dan gorengan kita Cuma habis 5 ribu rupiah saja. 



warung di antah berantah

kabut mulai turun
Kita kembali melanjutkan perjalanan ketika kabut sudah mulai turun, kabut yang semula hanya turun tipis - tipis lama kelamaan menebal, bahkan ada saat kabut sangat tebal hingga jarak pandang sekitar cuman 100 meter. Alhasil aku minta miss Nana untuk berhenti lebih dahulu karena terlalu berbahaya. Setelah kabut agak berkurang kembali kita menuruni jalur yang kemarin kita daki pembalasan dendam yang menyenangkan. Tapi turunan ini tidak semua mulus karena kemarin jalan rolling berarti hari ini pun ada beberapa tanjakan yang harus kita daki. Setelah turunan panjang dan beberapa tanjakan, kita mulai memasuki sukapura dengan ditandai oleh hilang kabut dan hawa yang sudah mulai panas. Kita pun turun hingga pertigaan sukapura. Di pertigaan sukapura kita sempat di sapa oleh Penjual Bakso Iga yang dulu kita sempat mampir waktu menuju Bromo. 

yang atas jalur jeep kita ambil jalur bawah







kabut menebal
Di pertigaan ini sekitar pukul 10.00 aku dan miss Nana kembali berdiskusi, sebetulnya jadwal hari itu adalah kita turun bromo sebelum ke Probolinggo kita mampir dulu ke air terjun Madakaripura. Namun dikarenakan kondisiku dan jarak dari Sukapura ke Madakaripura masih 17 km lagi ke arah lumbang, kita khawatir 17 kilometer itu akan berupa tanjakan. Dan dari Madakaripura ke Probolinggo akan membutuhkan waktu 36 Km lagi. Maka niat berkunjung ke Madakaripura pun harus kita urungkan. Well sorry ya tapi semoga ini yang terbaik. Setelah mengambil keputusan maka kita mengambil arah jalan menuju probolinggo. Dan melewati turunan tanpa henti ini yeaaaaah. Kita harus kembali berhati - hati saat memasuki kawasan proyek jalan Tol karena jalan aspal yang rusak dan becek dengan lumpur dan air bawaan truk. Selain itu juga kita harus berhati - hati dengan truk yang melintas. Akhirnya sekitar pukul 11.30 kita memasuki kota Probolinggo, kita berhenti di suatu minimarket terlebih dahulu untuk buang hajat dan beli air. Well karena kita telah tiba di daratan rendah kembali dengan matahari yang bersinar cerah badan yang beberapa hari ini belum mandi mulai terasa gerah lol namun karena waktu cek in masih lama, aku dan miss nana memutuskan untuk berhenti mencari makan siang dulu sebelum kembali ke Penginapan. Setelah berofoto di batas kota dengan tulisan Kota Probolinggo kita memasuki kota Probolinggo dan celingak - celinguk mencari tempat makan yang cocok, selain rawon dan soto :p juga bakso lol. Karena bingung akhirnya pilihan jatuh ke restoran cepat saji lokal yang menjajakan ayam goreng. Kita pun mampir membeli "makan" yang mungkin bisa disebut Cuma snack siang. Ketika kita sedang menikmati makan siang, ada satu keluarga yang datang ayah, ibu beserta anak mereka. Mereka duduk di meja sebalh kita agak kesana dikit, sebetulnya aku melihat gerak - gerik si ayah yang mengamati kita entah karena penasaran atau memang kita terlihat sekali seperti pelancong lol. Hingga akhirnya dia memberanikan diri mendekat dan berkata "kemarin sampai bromo jam berapa?" heeh kok tahu "kemarin saya papasan waktu kalian sedang mau naik ke Bromo" lanjutnya ,, whaaaaah kita agak surprise dan senang kemudian kita lanjutkan sedikit bercerita bahwa kita sampai bromo jam 5 khi khi dan menginap dua malam kemudian tadi turun jam 9 pagi. Setelah cukup bercerita dia kembali mempersilahkan kita menikmati makan siang kita dan dia lanjut kembali ke mejanya :D. whaah kita selalu senang dan excited ketika dalam perjalanan ternyata ada yang memperhatikan dan ingat sama kita :p setelah waktu menunjukkan jam 13.40 dimana hanya kurang beberapa menit lagi untuk waktu check in. maka kita pun bersiap untuk ke penginapan, dan di penginapan kita sudah di sambut kembali oleh si Bapak penjaga penginapan di Probolinggo "selamat datang kembali" sapanya ramah, setelah check in kita pun menuju kamar kita untuk istirahat dan berebut mandi, well di kota memang butuh mandi tidak seperti di Gunung yang berhari hari tidak mandi pun tidak berasa lol. 

civilization




makan siang kita
Siang itu kita hanya istirahat di kamar, namun ada satu kondisi yang kembali membuat cemas, di penginapan Cemaralawang di Bromo, sebelum turun aku sudah 3 kali ketoilet untuk membuat hasil pencernaan, bahkan baru juga buka pintu perut udah mules, begitu tiba di penginapan di Probolinggo ternyata perut ini juga mengalami hal yang sama bahkan hari itu sampai malam aku sampai 13 kali buang air Besar.  Sorenya setelah cukup kita istirahat siang itu, kita keluar untuk gowes menikmati suasana kota Probolinggo, kita menuju alun - alun jajan gorengan, tadinya mau masuk ke alun  - alun namun karena tiba - tiba dihadang oleh orang entah siapa dan diminta untuk memarikir sepeda mood ku udah jelek dan langsung balik kanan cancel untuk nongkrong di alun - alun. Akhirnya setelah gowes berputar kita menemukan sebuah halte, maka kita pun nongkrong di halte sambil menikmati camilan gorengan. Disaat itulah kita berpikir betapa public space itu memang sangat perlu lol so orang ilang kayak kita bisa duduk dan istirahat sejenak tanpa harus beli sesuatu atau bayar lol. Setelah ngemil kita pun kembali gowes muter Probolinggo mencoba menghafal jalan, dan melihat - lihat kawasan. Hingga malam tiba kita pun mampir ke sebuah warung makan chinese food yang telah kulihat sebelumnya yang terletak sebelum alun - alun. Warung yang cukup sepi namun masakannya lumayan enak cita rasa chinese food halal dengan harga yang terjangkau, malam itu miss Nana memesan Capcay sedag aku yang tidak nafsu makan hanya minta the hangat. 
tempat makan malam kita
Setelah makan dan sediki NR kita kembali ke penginapan, tiba di penginapan yang ternyata lumayan ramai dari hari yang terdahulu kita datang. Di depan Reception ada sekelompok bapak - bapak yang sepertinya sedang ngobrol, saat kita tiba sepertinya mereka berbisik - bisik, dan salah seorang menghampiri dan bertanya "Habis dari Bromo!" whaah kita jadi bahan pembicaraan sepertinya lol setelah ngobrol obrol singkat dia pun berkata "silahkan nikmati Probolinggo, besok kemana lagi …"
Yaa besok kemana lagi coba?? Nantikan tulisan berikutnya yaa

To Be Continue ….