SLIDER

Thursday, July 30, 2015

(Pengalaman) Tips Membawa Sepeda Lipat ke Kabin Kereta




Salah satu kelebihan dari sepeda lipat adalah kepraktisanya karena bisa dilipat, sehingga memudahkan kita apabila ingin membawanya kemanapun memenami perjalanan kita. Entah mungkin tidak seperti yang dibayangkan orang bahwa ternyata setelah dalam keadaan terlipat pun sepeda lipat tidak akan mempunya bentuk yang kecil dan praktis seperti yang orang - orang mungkin bayangkan, tentu saja terkecuali sepeda lipat bermerk dengan harga yang tentu saja fantastis. Ditulisan ini sih saya membahas pengalaman saya ketika membawa sepeda lipat diatas kereta, P.S Sepeda saya adalah Pocket Rocket dari Wimcycle yang dimana meskipun dilipat masih terlihat cukup besar.



Dan ternyata juga meskipun pemilik sepeda lipat berharap dengan kepraktisanya dapat membawa seli (alias sepeda lipat)  di berbagai angkutan umum sering terbentur dengan beberapa insiden meskipun suda ada aturan yang jelas mengenai tata cara membawa sepeda lipat di angkutan umum, entah kerena kurang nya sosialisasi, atau karena anggapan bahwa yang kita bawa adalah "Sepeda" masalah ini terutama kerap muncul bagi pelanggan Angkutan Kereta terutama kereta Ekonomi.



Sepeda kita di Belakang pintu
Saya memang sudah beberapa kali membawa sepeda dalam kereta api, baik kereta api Bisnis maupun Ekonomi, untuk kereta api Eksekutif tidak akan ada masalah,yaah namanya juga kereta eksekutif pasti akan lebih banyak layanan kepada penumpang. Dan  karena di setiap gerbong terdapat rak untuk tempat kita menaruh barang, sehingga kita dapat menempatkan seli kita disana tanpa ada gangguan.

loker di kabin kereta eksekutif

Untuk kereta bisnis kita dapat menaruh sepeda lipat kita di antara kursi di deret kursi yang berada di dekat toilet. Pada kereta bisnis di deretan kursi yang berada didekat toilet terkadang ada sedikit jarak sehingga kita bisa menempatkan seli kita disitu.  Dua kali saya membawa seli ke Jakarta dengan kereta Bisnis Senja Utama, hanya sekali ketika petugas mempermasalahkan saya membawa seli di gerbong kereta, dia hanya mengatakan lain kali tidak boleh. Tanpa banyak melawan saya Cuma mengiyakan dan bilang

 "maaf".
Nhah untuk kereta ekonomi terkadang persoalan sudah mulai muncul ketika kita hendak memasuki peron, bisa - bisa kita dilarang masuk oleh petugas yang mengetahui kita membawa sepeda. PT KAI memang sedang memperbaiki pelayanan publik terhadap penumpang kereta Ekonomi, oleh karena itu berbagai macam peraturan mulai diberlakukan untuk membatasi barang bawaan penumpang. Agar diatas gerbong tidak akan mengganggu penumpang yang lain. Untuk sepeda dan sepeda lipat sendiri PT KAI sudah mengaturkan di Pasal 14 dalam peraturan penumpang Kereta yang berbunyi
 " Khusus sepeda lipat atau speda biasa yang dikemas sedemikian rupa dalam keadaan komponen - komponennya tidak dirakit menjadi sepeda utuh dapat dibawa kedalam kabin kereta penumpang dan ditempatkan pada tempat yang tidak mengganggu atau membahayakan penumpang lain serta tidak akan minimbulkan kerusakan pada kereta tidak dikenakan biaya "
peraturan penumpang kereta
kita dapat melihat peraturan tersebut di bagian belakang lembar pemesanan tiket, saya sering mengambil beberapa lembar dan kemudian saya stabilo sebagai modal untuk saya bawa ke atas kereta.
Membawa sepeda lipat diatas kereta comuter Solo - Jogja, Solo - Semarang saya tidak pernah ada masalah. Ketika membawa seli untuk pertama kalinya di atas kereta Ekonomi jarak jauh yaitu Solo - Blitar dengan kereta Matramaja, saya pun membawa lembar pemesanan tiket yang telah saya stabilo untuk berjaga - jaga dan saya bawa ke atas kereta. Saat itu barang bawaan saya cukup banyak bukan hanya Sepeda lipat saja. Untuk mempermudah saya melewati petugas peron saya menggunakan jasa poter , karena saya berbikepacking bersama pasangan saya otomatis ada 2 sepeda lipat. Poter pun saat itu menempatkan sepeda saya diatas gerbong, pada saat itu gerbong yang saya naiki ada pintu disebelah barat yang tidak  bisa dibuka, maka poter menempatkan dua sepeda saya disitu. Dia mengatakan tidak apa pintu tidak bisa dibuka jadi tidak akan mengganggu.
barang bawaan ketika ke Blitar
Ketika mulai pemeriksaan tiket oleh petugas, timbulah "perbincangan" tersebut, dengan pertanyaan yang kurang disukai oleh kita para selier
"siapa yang memperbolehkan membawa sepeda lipat keatas gerbong", 
saya pun mengeluarkan lembaran kertas tersebut dan mengatakan "disini tertulis bla bla blaa boleh" , petugas tersebut pun menjawab "tapi harusnya ditaruh di gerbong bagasi, baik akan saya tanyakan ke masinis" dan akhirnya setelah menunggu, ternyata petugas tersebut tidak kembali dan kita tidak mendapat gangguan kembali hingga ti di stasiun Blitar.

salah satu spot di kabin kereta untuk menaruh sepeda


Tali yang saya gunakan untuk mengikat sepeda


Pengalaman kedua ketika membawa seli diatas gerbong kereta Ekonomi menuju Malang, kembali terjadi percakapan yang kurang mengenakan karena petugas yang melantangkan suaranya alias sedikit membentak memarahi kita yang membawa seli diatas kereta.

"SIAPA YANG NGEBOLEHIN MEMBAWA SEPEDA DIATAS GERBONG GINI!!" 
Akupun menjawab dengan tenang dan percaya diri sambil menatap matanya (sambil nahan emosi saya ga suka di bentak bentak)
"Pasal 14 peraturan penumpang kereta api, bahwa sepeda dan sepeda lipat yang tidak dirakit diperbolehkan dibawa diatas gerbong tanpa dipungut biaya.."
Dia pun terdiam sejenak sedikit kaget dan tertegun dengan jawabanku atau kaget ada aturan seperti itu.dan kemudian menjawab
"Ya tapi seharusnya jangan ditaruh di depan pintu, menghalangi jalan nanti"  katanya ..
Akupun Cuma menjawab
"oh maaf saya pindahkan"
Dan seli saya pindahkan di lorong disamping toilet.
Setelah itu tidak ada lagi gangguan perbincangan ..

Ketika saya berencana akan bersepeda ke TN Baluran dimana start point dari ketapang banyuwangi, saya menggunakan Kereta Sri tanjung berangkat dari stasiun Purwosari hingga ketapang banyuwangi.  Belajar dari pengalaman saya sebelumnya saya pun pergi ke stasiun sebelum membeli tiket saya pun menanyakan kejelasan peraturan membawa sepeda lipat ke atas kereta. Oleh CS nya dengan ramah dia menunjukan peraturan no 14 yang telah distabilo bahwa saya tidak perlu khawatir seli boleh dibawa naik ke atas kereta tanpa dipungut biaya.
 
Merasa tidak puas karena biasanya masalah timbul ketika masuk peron, saya pun bertanya pada petugas peron bolehkah saya membawa seli ketas kereta. Senada dengan CS petugas peron pun mengiyakan bahwa saya dapat membawa seli saya keatass kereta, saya tidak perlu khawatir, namun jika seli saya melebihi berat bagasi yang ditentukan saya hanya akan dikenai biaya tambahan kelebihan bagasi. Ketika saya menjelaskan berat seli hanya berkisar 10kg petugas pun mengatakan tidak apa - apa. Melihat saya yang masih khawatir petugas meminta saya untuk kembali bertanya ke CS. Kali ini petugas CS yang berbeda saya kembali menanyakan kejelasan membawa seli diatas kereta dan sama seperti kemarin dia pun mengatakan "Boleh". 
Dan pada Hari H dengan sedikit was was saya memasuki peron di stasiun purwosari dengan membawa seli, salah satu petugas peron sempat menanyakan apakah seli boleh dibawa naik, karena meskipun beratnya hanya 10 kg tapi volume setelah terlipat cukup besar. Ternyata dijawab oleh petugas peron lainya, dia sudah menanyakan hal tersebut sebelumnya keatasannya dan dia bilang "BOLEH"

saya menaruh seli diatas rak

Selama perjalanan dari stasiun purwosari menuju Banyuwangi tidak ada masalah yang muncul dari petugas diatas kereta. Dua kali saya naik Kereta Sri Tanjung dan setiap naik dari Stasiun purwosari saya tidak pernah mendapatkan masalah. Namun sebaliknya setiap naik dari stasiun Banyuwangi Baru, Ketapang Banyuwangi, selalu saja ada masalah. Ketika perjalanan pertama saya mendapat masalah dari petugas peron, yang meskipun mengijinkan seli saya naik keatas kereta tapi melarang seli ditaruh di lorong gerbong maupun dibalik pintu, sehingga harus menaruhnya di kolong kursi dan diatas rak (karena seli saya ada boncengan yang terlalu besar untuk masuk dikolong). Pada perjalanan kedua dari Banyuwangi, saya sudah tidak mendapat masalah dari petugas peron, dia tidak ikut hingga keatas gerbong hanya mengatakan
"seli ditaruh dibawah kursi Ya"
Dan karena saya malas, maka saya meletakan seli dilorong. Tidak ada masalah yang timbul hingga stasiun Tanggul dimana petugas diatas kereta berganti untuk yang ketiga kalinya (FYI petugas diatas kereta jarak jauh akan berganti - ganti sesuai dengan pos masing - masing), menanyakan keberadaan Seli diatas gerbong, yang kembali menimbulkan perbincangan, sehingga kita memindahkan seli di ujung lorong gerbong yang kosong.
Meskipun peraturan oleh KAI sudah tertulis dengan jelas bahwa sepeda dan sepeda lipat dapat dibawa diatas gerbong apabila dalam keadaan yang tidak dirakit, namun ternyata entah karena kurang pengetahuan nya petugas akan peraturan tersebut, atau karena masih belum familiar dengan seli yang berada di atas gerbong, atau hanya arogansi petugas. Namun hendaknya apabila kita menghadapi masalah tersebut tidak ikut terbawa emosi, semuanya kembali pada kepentingan umum untuk kenyamanan penumpang. Harapanya sih ada ketegasan dalam Implementasi peraturan no 14, dan sosialisasi oleh KAI kepada petugas - petugas di atas kereta.

seli yang ditaruh dibawah kolong kursi (yang 3 orang)

Jadi berikut beberapa tips berdasarkan pengalaman saya ketika kamu membawa Seli di atas kereta Ekonomi
  1. Sebetulnya kita dapat menempatkan seli yang telah terlipat di lorong gerbong di desamping toilet karena mempunyai space yang sedikit agak lebar
  1. Jika kita berangkat dari stasiun awal, kita dapat meletakan seli kita di bawah kursi (tidak dalam keadaan terlipat, hanya handle nya saja yang dilipat) atau jika kamu cukup kuat letakan seli diatas rak jangan lupa di tali dengan kuat. (permasalahan tentu akan timbul ketika akan turun, bersiaplah menurunkan seli sebelum tiba di stasiun tujuan agar tidak terburu - buru)
  2. Kamu dapat meletakan seli di gerbong restorasi, gerbong ini hanya digunakan sebagai restauran tempat penumpang jika hendak makan, sehingga cukup longgar dengan Ijin tentunya, gerbong restorasi biasanya adalah gerbong yang ke-empat dari rangkaian gerbong yang ada.
  3. Jika memungkinkan pesanlah tiket di gerbong 1, karena sebelum gerbong 1 akan ada gerbong 0, dimana gerbong tersebut tidak digunakan untuk penumpang umum, sehingga kamu dapat menaru seli kamu diujung lorong antara gerbong 1 dan gerbong 0 agar tidak mengganggu penumpang lain.
  1. Kamu dapat membawa seli dan diletakan di gerbong Bagasi tapi dengan berbagai peraturan yang ada, karena setiap barang naik dan turun harus dicatat dan tentu dengan biaya ekstra.
  1. Bawalah lembar yang berisi peraturan mengenai membawa sepeda dan sepeda lipat sebagai bukti akan adanya peraturan yang membolehkan membawa sepeda diatas gerbong
  1. Lipatlah seli kamu sebelum memasuki peron Stasiun, karena mau sepraktis apapun jangan sampai menggagu penumpang lain.
  1. Saya tidak menggunakan tas seli, dengan tujuan agar petugas mengetahui bahwa barang yang saya bawa adalah Sepeda Lipat dimana sudah diatur dalam pasal 14 boleh dibawa ketas gerbong
  1. Ketika muncul "perbincangan" dengan petugas yang mempermasalahkan seli kita, jawablah dengan sopan, ramah dan jelaskan mengenai peraturan tersebut dengan percaya diri tanpa terbawa emosi
  1. Hormatilah hak penumpang lain untuk juga mendapatkan kenyamanan di atas kereta.

Thursday, July 23, 2015

Bikepacking TN. Baluran - EPisode 2 "Liburan Yang tidak boleh Terlewatkan"




Baiklah setelah sekian lama entahudah berapa lama ya sejak tulisan pertama, baru ada mood lagi buat nulis lanjutanya. Yaah biasa sibuk (ngeles) so okay begini. Memang sedari awal saya sudah berencana untuk menginap dua malam di Pantai Bama (3 Hari 2 Malam) dengan maksud memang agar bisa memuaskan diri menikmati Taman Nasioanal Baluran, karena kapan lagi kita bisa akan kembali kesini tul ga??... So Rencana awal hari kedua di Baluran adalah kita habiskan bersepeda, bernarsis ria di Savana Bekol dan sekitaran, namuun .. Ya sekali lagi Namun … dikarenakan trek yang sebegitunya minta ampun, akhirnya untuk hari kedua rencana kita ganti menjadi Treking saja (ampun deh pasangan saya ini suka banget capek, kalau saya sih pengenya males - malesan di pantai :p).

Day 3 Selasa, 5 Mei 2015 

Jadi pagi itu seperti biasa saya dipaksa dengan halus bangun dari mimpi dengan mata yang masih setengah tertutup diajak untuk menikmati Sunrise di Luar Wisma yang telah kita sewa. Namun ternyata selain kita memandang sisi langit yang salah langit juga tertutup mendung sehingga matahari pagi pun enggan kita abadikan. Kita pun kembali ke wisma untuk bermalas - malasan dulu … khi khi khi Mau Gimana namanya juga Liburan … setelah sekitar pukul 09.00 kita pun bersiap, mandi bersih - bersih. Pukul 10.00 kita meninggalkan wisma dengan peralatan secukupnya, pagi itu pantai masih sepi pengunjung hanya beberapa orang yang sepertinya sedang KKL di situ. Untunglah kantin telah buka, kita pun segera order sarapan, kali ini aku memesan Nasi Soto dan miss Nana nasi Pecel.  Tidak lupa kita pun memesan sebungkus nasi goreng untuk kita makan siang di Bekol Nantinya.


wisma pilang di malam hari

hello sunrise

sunrise di pantai bama





pockie di wisma pilang




Selesai sarapan kita pun segera memulai perjalanan kita jalan kaki menuju Savana Bekol, kita pun waspada untuk mengamankan bekal kita dari incaran para Monyet - monyet liar tersebut. Well namanya juga newbie baru 1.5 kilometer dengan cuaca panas dan jalanan buruk serta trek yang menanjak rasanya sudah hadeuuh banget deh.  Maka kita pun berhenti istirahat, minum dan mencari spot untuk bernarsis ria, sekitar 30 menit berhenti kita kembali melanjutkan perjalanan, sambil menikmati rimbunya pepohonan dan kawanan hewan liar yang terkadang muncul. Suasana Baluran kala itu sungguh sepi, hampir kita tidak berpapasan dengan pengunjung lain. Bahkan di Savana Bekol sekalipun kita hanya berpapasan dengan beberapa orang yang sepertinya akan Pre Wedding. Tujuan kita siang itu adalah Menara pandang, menikmati pemandangan Savana Bekol dan Gunung Baluran dari atas menara Pandang. Rencananya sih kita mau sekalian makan siang, namun ternyata diatas sudah ada beberapa kelompok pemuda yang juga sedang asyik bernarsis ria. Selain itu ternyata di atas menara pandang pun kita tidak bisa lolos dari gangguan para monyet yang mengincar bekal kita. Jadi kita mengurungkan niat untuk makan siang di menara pandang, hanya menikmati pemandangan saja. 




pemandangan dari atas menara pandang
Kita pun turun dan kembali ke Savana Bekol, didepan pondok kita menikmati makan siang, dan tentu saja koneksi internet , dimana di Baluran ini koneksi Internet berhenti di Savana Bekol ha..ha...ha ..ha.. Okay so jadi sembari menikmati makan siang di pinggiran Savana bekol di bawah pohon rindang didepan pondok yang kosong karena saat itu bukan musim libura, kita pun memanfaatkan jaringan internet yang ada untuk mengecek sosial media kita (well lebih tepatnya sih kalimat itu buat pasangan aku, miss nana, dia rajin update dan membalas komen sosial media nya.) dan saat itulah ada kenalan nya dari Suatu grup sepeda di FB yang berasal dari suatu daerah di Situbodo menyatakan hendak bertemu menyusul ke Baluran. Karena lebih dekat jika kopdar di baluran daripada harus di Solo atau Semarang weew  baiklah jadi setelah dipustukan pertemuan sekitar pukul 4 sore di Pantai Bama maka kita pun setelah menyelesaikan makan siang bergegas kembali ke Pantai Bama karena membutuhkan sekitar satu jam untuk berjalan kembali.  Ditengah perjalanan kita berpapasan dengan mobil si penjaga kantin … Aduuuh alamat bakal ga ada makanan ini nanti malam… 1 kilometer sebelum pantai bama kita berpapasan dengan seseorang yang ternyata adalah Teman miss Nana yaitu om Fajar, maka obrolan  pun kita lanjutkan di tepi Pantai Bama. Setelah ngobrol ini itu sekitar pukul 17.00 om Fajar berpamitan, karena membutuhkan sekitar 1.5 jam untuk keluar dari Taman Nasional Baluran dan 1 jam menuju rumahnya. 





Dan sisa hari itu sampai malam hingga pagi hari kita habiskan waktu dengan bercerita saja dengan perut kosong karena Kantin telah tutup dan kita tidak membawa bekal yang cukup.

Day 4 Rabu 6 mei 2015

Pagi ini kembali seperti biasa,ada yang membangunkan aku untuk menikmati muncul nya sang mentari pagi dari ufuk timur. Baiklah dengan mata yang sedikit lebih melek dari pagi kemarin kita segera meluncur kepantai (yang berada di depan wisma kita :p)  Pagi kemarin kita tidak bisa menikmati sunrise, pagi ini dengan sedikit jurus Langit dan penantian sabar akhirnya …. Violaa!! Matahari dengan Indahnya muncul dari horizon laut di ufuk Timur hutan Mangrove, kita pun segera mengabadikan momen tersebut. Dan setelah puas menikmati suasana sunrise dan pagi hari di tepi pantai yang sepi seolah milik kita sendiri. Usai menikmati mentari pagi kali ini kita bergegas untuk mandi dan bersiap. Semua barang telah kita packing malam harinya, hari ini kita bergegas meninggalkan wisma membawa serta barang2 untuk kembali trail ke kawasan mangrove terlebih dahulu dengan menggunakan sepeda.  Usai bersepeda di kawasan mangrove sekitar pukul 09.00 kita menuju kantin yang ternyata telah buka untuk mengisi perut kita pagi itu. Setelah menikmati sarapan kita berpamitan dan mulai menyauh sepeda meninggalkan kawasan Pantai Bama. Dan kini tiba saatnya kita kembali bernarsis Ria sepuas - puasnya di Savana bekol dengan sepeda kita huraaay … :D kawasan TN Baluran hari ini lebih ramai dari hari kemarin, saat dipantai kita sudah berpapasan dengan beberapa rombongan yang berbeda. Dan di Savana Bekol pun demikian, ada juga sepertinya rombongan Mahasiswa yang mengadakan kelas lapangan di Savana Bekol. 




Setelah foto sana, foto sini dari berbagai Angle dengan berbagai macam gaya dan Background menjelang siang kita pun melanjutkan perjalanan keluar dari TN Baluran, dengan jalan yang rusak parah (atau memang begitulah adanya) kita pun mengayuh sepeda kita pelan - pelan sambil menikmati suasana TN Baluran, dan kita pun tiba di gerbang masuk sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah berfoto di gerbang masuk (lagi) kita pun melanjutkan perjalanan menuju ketapang Banyuwangi, target kita adalah warung kopi untuk membasahi kerongkongan yang sudah begitu kering ketika menyusuri jalan setapak di Baluran, dan  ternyata warung yang kita singgahi pun terletak di depan lapangan Bajul Mati kita menikmati es kelapa muda dan semangkok Bakso Malang untuk berdua. 




Meski telah terisi setengah porsi bakso malang dan es kelapa muda, namun ternyata tenaga kita sudah terkuras habis saat menapaki jalanan di Baluran, sehingga kita pun menyusuri jalan menuju Ketapang dengan santai, dan juga menyempatkan diri berhenti di tepi pantai menikmati senja bersama penduduk sekitar. Tiba di Ketapang selepas maghrib. Kita langsung menuju penginapan yang telah kita lihat sebelumnya yaitu wisma yang terletak 200 meter dari pelabuhan ketapang banyuwangi dengan harga 60 ribu permalam, meskipun dengan kamar yang seadanya ukuran kamar yang kecil dengan kipas angin, cukuplan sebagai tempat transit melepas lelah istirahat semalam.  Setelah bersih - bersih kita mencari makan malam di depan pelabuhan ketapang. Kemudian kembali istirahat untuk melanjutkan perjalan esok hari. 

Day 6 Kamis 7 mei 2015

Pagi itu kita bergegas menuju stasiun Banyuwangi baru, sebelumnya kita mampir terlebih dahulu di warung makan untuk membeli bekal selama di perjalanan. Kereta Sri Tanjung yang akan membawa kita kembali ke Solo berangkat dari Banyuwangi Baru sebagai stasiun pertama, sekitar pukul 06.30 WIB, ada sedikit kesulitan ketika melewati penjaga peron, dia mengikuti kita hingga ke atas Gerbong dan melarang kita meletakan sepeda di lorong kereta. Sehingga kita harus meletakan sepeda kita di bawah kursi dan diatas rak kursi. Namun setelah itu tidak ada kesulitan lain yang kita alami selama di perjalanan. Kereta pun tiba sekitar pukul 18.30 di Stasiun Purwosari.


Demikianlah perjalanan bersepeda kita kali ini, mewujudkan keinginan kita untuk bersepeda di Taman Nasional Baluran, meskipun telah menghabiskan waktu selama 3 hari 2 malam, tapi rasanya masih belum puas dan ingin mengulang perjalanan tersebut :D

Well so Jadi sampai ketemu di kisah berikut nya ….

Monday, July 13, 2015

Bikepacking Baluran - 1 - Spontaniously wellplanned ...


Baluran…
Pertama kali saya mengetahui tentang Baluran adalah dari Cipluk teman sepedaan saya dari Kudus yang bertualang bersama teman - temanya ke Taman Nasional Baluran. Melihat foto - foto mereka aku sendiri merasa asing dengan daerah nya .. Bahkan mengetahui ada gitu taman Nasional Baluran di Situbondo … !??
Ya taman Nasional Baluran tereletak di Situbondo, pintu masuknya terletak 500 meter dari perbatasan dengan Banyuwangi.

Cipluk sendiri yang sangat excited dengan perjalanannnya itu dengan excited pula berbagi dengan kita dan mengajak kita untuk kembali berkunjung ke Baluran. Yaa respon kita sih mau bagaiamana lagi, tempatnya yang jauh membutuhkan libur yang lebih lama dan tentu Dana yang tidak sedikit. Hal itu kemudian hanya menjadi mimpi yang entah kapan bisa terwujud. Namun ternyata memang Nasib berkata lain, setahun kemudian dengan banyak hal yang telah terjadi. Aku pun bisa mendapatkan Dana yang lumayan cukup untuk tabungan ku, dan setelah kita berhitung - hitung membuat ittenary sementara budget dan transportasi yang akan dipakai ternyata kita ada kemungkinan kita untuk bersepeda Ke Baluran. Hal ini pun aku utarakan ke bikingmate ku miss Nana, dia sempat menolak dan memilih untuk menyimpan uang tersebut untuk mewujudkan mimpi kita yang lebih besar, namun setelah kuceritakan keindahan Baluran dia pun mengiyakan perjalanan kita.
sarapan di warung sederhana


Yuup bisa dibilang perjalanan kita kali ini memang mendadak, hanya dalam waktu 2 minggu kita harus bersiap - siap untuk perjalanan kita kali ini, membeli tiket kereta dan memesan tempat menginap di Baluran.
Kita mengambil waktu pada tanggal 4 Mei 2015, bertepatan dengan Ujian Nasional dimana aku dan miss Nana mendapat libur.

Day 1 Minggu, l 3 Mei, 

Kita berangkat dari Solo dengan kereta Sri Tanjung menuju Banyuwangi. Kereta berangkat pukul 08.10 pagi dari solo, dengan waktu tempuh hampir 13 jam. Utunglah kereta api ekonomi yang sekarang ini sudah jauh berbeda pelayananya, semua ber AC dan duduk tidak ada penumpang yang berdiri.  Sehingga kita pun dapat merasa nyaman menikmati perjalanan yang hampir 13 jam ini.


Ngopi dulu

Kereta tiba tepak waktu di Banyuwangi sekitar pukul 21.15 WIB di stasiun Banyuwangi Baru, kita sempat khawatir dan ketar - ketir akankah kita bisa mendapatkan penginapan di daerah ketapang. Staisun Banyuwangi Baru adalah stasiun terakhir di Banyuwangi dimana terletak pelabuhan Ketapang. Kita sempat bertanya - tanya kepada OTC dan petugas kereta, yang memberi kabar bahagia bahwa di ketapang terdapat beberapa penginapan juga mini market!!.

Ekspetasi kita sungguh merendahkan ketapang ya :p karena berpikir bahwa itu kota kecil sehingga tidak ada penginapan. Tapi syukurlah begitu kita keluar dari stasiun, ternyata kota tidak sesepi yang kata bayangkan, bahkan cukup ramai karena merupakan Jalan Utama di Pantura dimana terletak pelabuhan Utama ke Bali!. Untunglah di depan stasiun terdapat penginapan, ktia yang telranjur khawatir dan lelahpun segera menanyakan kamar dan check in. setelah menaruh barang dan bersih - bersih, kita pun kembali keluar untuk melihat suasana kota dan mencari makan malam, juga berburu penginapan murah lainya untuk kita menginap lain hari.  Setelah makan malam dan menikmati kota ketapang banyuwangi, kita kembali ke penginapan untuk istirahat dan bersiap untuk perjalanan esok hari.

Day 2, Senin, 4 Mei 2015

Pagi ini kita bersiap cukup pagi, jam 6 kita sudah meninggalkan hotel dan sempat sarapan di warung kecil depan hotel cukup dengan 12 ribu sepiring nasi campur yang cukup untuk dua orang dan 2 gelas es The plus Rempelo Ati. Setelah sarapan kita pun berangkat meninggalkan ketapang menuju Situbondo. Kita memang sengaja berangkat pagi Karena buta sama sekali mengenai trek yang akan kita tempuh, untuk berjaga - jaga agar tidak terlalu siang atau kesorean tiba di Baluran.  Disepanjang perjalanan kita di suguhi trek rolling yang tidak terlalu sulit untuk ditempuh dengan sepeda, dan tentu saja disuguhi pemandangan apik tepi laut, terkadang kita pun berhenti untuk berfoto.



Kita sempat berhenti di sebuah pasar memasuki kecamatan Bajulmati untuk istirahat dan minum Kopi dan es. Sekali lagi kita melanjutkan perjalanan, dan ternyata pintu masuk Taman Nasional Baluran terletak sangat dekat dengan perbatasan Banyuwangi dan Situbondo jarak tempuh dari Pelabuhan Ketapang hanya sekitar 35km, pintu masuknya sih nyempil dan kecil. Ga terlihat bahwa itu akan berisi Taman Nasional. Setelah masuk dan membayar tiket, kita kembali melanjutkan perjalanan.

Dari gerbang ini Baluran sudah dekat



Ternyata dari pintu masuk menuju Check Point 1 yaitu savana Bekol berjarak sekitar 9 km, trek nya ternyata berupa jalan tanah berbatu sehingga sangat menyulitkan kita yang mengendarai Sepeda lipat dengan ban kecil. Maka 9 km pun kita tempuh dengan sangat lambat apalagi ditambah jalan yang rolling. Tapi kita masih beruntung karena tanah hitam saat itu dalam kondisi kering, karena beberapa hari sebelumnya Baluran diguyur hujan terus meneru, sehingga menyebabkan tanah hitam berubah menjadi lumpur pekat yang menyulitkan untuk ditempuh dengan sepeda. FYI pada hari sabtu - minggu (2-3 Mei) terdapat acara bersepeda yang diselenggarakan oleh Zodiac. 



Gerbang Masuk Baluran


Gunung Baluran
Bekol


Setelah hampir sejam berlalu kita pun tiba di Savana Bekol, disuguhi keindahan pemandangan savana yang terhampar luas kita pun hanya bisa terelalak kagum dan menikmati indahnya Bekol. Tidak lupa kita pun bernarsis ria. Dibawah terik matahari dan juga suara perut yang keroncongan. Karena kita mengunjungi Baluran bukan di musim liburan juga bukan di Hari libur, maka kita pun tidak perlu dipusingkan oleh antrian rombongan yang ingin narsis di Bekol.



Dikarenakan kita berdua sudah semakin kelaparan, maka kita pung memutuskan untuk tidak banyak narsis karena berpikir kita akan menginap di Baluran selama dua malam. Maka kita pun langsung melanjutkan perjalanan menuju pantai Bama. Dari Savana bekol menuju pantai Bama, kita disuguhi jalanan panjang yang lurus kedepan, tanpa banyak pepohonan di kiri kanan, namun savana sangat berbeda dengan jalur menuju Bekol. Dan ternyata trek yang masih rolling ini juga lebih parah, karena jalan berupa makadam atau batu - batu besar. Di kiri kanan terkadang kita masih melihat lumpur sisa hujan kemarin. Kita sedikit terbantu karena trek menuju Bama di dominasi turunan, sehingga kita pun lebih cepat mencapai Bama yang berjarak 3 km dari Savana Bekol. Kita tiba di Pantai Bama sekitar pukl 13.10 WIB.



Segera setelah tiba di pantai kita mencari penjaga untuk chek in di wisma yang sudah kita booking sebelumnya yaitu Wisma Pilang, wisma yang terletak sedikit agak lebih jauh dari pos Penjaga, yang membuatnya seperti Eksklusif dengan pantai pribadi karena hanya 50 meter dari tepi pantai.

Wisma Pilang yang cukup besar (namanya juga wisma) terdiri dari teras, ruang tamu, dapur, 1 kamar mandi dan 1 kamar tidur. Ruang tamu yang cukup luas yang berisi sofa juga disediakan 2 kasur tambahan, sehingga Wisma Pilang pada dasarnya dapat diisi untuk rombongan lebih dari 5 orang.


Setelah menaruh barang kita pun langsung menuju kantin, satu - satunya tempat makan yang tersedia di pantai bama untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Berdasarkan info sebelumnya dari penjaga wisma bahwa kantin tutup puk 17.00 maka kita pun dihimbau untuk memesan makanan untuk makan malam terlebih dahulu.

Malam ini kita habiskan dengan duduk santai dan ngobrol menikmati sore hari di teras wisma sambil memandang laut ….


TO be Continued ….