SLIDER

Saturday, February 2, 2013

Gowes Nostalgia Ke Candi Cetho



Setelah menanti selama 13 bulan sejak bikepacking pertama kita ke candi cetho bikepacking tawangmangu, akhirnya tahun ini kita pun menyempatkan diri kembali gowes ke candi cetho. Candi yang penuh dengan  nuansa mistis yang dapat membuat kita tersihir akan keindahanya. Pada sabtu 26 Januari aku dan miss nana bersiap cukup pagi, karena tidak ingin kesingan dijalan karena kita sudah tahu rute yang akan kita lewati sepert apa. Sekitar pukul 6 lebih kita meninggalkan rumah menuju karanganyar, kita mengayuh sepeda cukup pelan – pelan saja menikmati suasan jalanan pagi yang ramai dengan anak sekolah dan para pekerja. Di karanganyar kita pun sarapan di warung timlo mengisi perut untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju karangpandan, trek menuju karangpandan cukup menanjak tapi tidak menjadi masalah, hingga kita tiba di terminal karangpandan, cek point pertama dan menikmati es kelapa muda yang sudah lama di idamkan ms nana :D.







Selesai ngemil pagi, kitakembali melanjutkan perjalanan, sebelumnya kita mampur dulu di minimarket untuk membeli bekal (yang ternyata adalah minimarket terakhir :p) dari karangpandan kali ini kita langsung berbelok menuju kawasan candi cetho dan candi sukuh, dari sini jalanan sudah mulai menanjak. Hingga kita sampailah di pertigaan amanah, dan kita pun mengambil arah ngargoyoso. Kita cukup mendapat bonus turunan setelah melewati arah candi sukuh. Namun saying memasuki ngargoyoso, cuaca mendung berubah sedikit demi sediki dengan rintik hujan







Rintik hujan bersama kabut memaksa semua perlatan harus masuk panier, mendekati wilayah kemuning hujan semakin lebat, maka aku pun terpaksa melepas sepatu agar tidak basah, dan melanjutkan gowes tanpa alas kaki. Hujan deras diperparah dengan angin yang cukup kencang membuat kita agak kerepotan melewati berbagai tanjakan di wilayah kemuning, moodku sempat naik turun.









Beberapa kali kita pun berhenti untuk mengisi perut dengan roti dan snak seadanya meski dibawah guyuran hujan lebat. Karena saat itu hujan lebat tidak banyak pernjual kita temui di wilayah kemuning. Hingga akhirnya kita berhenti sebentar untuk mengisi perut disebuah warung di perkebunan teh. Hujan deras, angin kencang ternyata membuat suhu menurun drastic sehingga sangat dingin aku pun menggigil saat menggowes sepedaku melewati perkebunan teh, disini mood ku benar – benar jelek, karena cuaca sangat tidak mendukung tapi akhirnya kita pun kembali melanjutkan perjalanan. Dengan  angin yang sangat kencang bahkan sepedaku pun kadang tertiup angin, dan guyuran hujan kita menikmati setiap tanjakan dan pemandangn perkebunan teh yang cukup sepi meskipun hari sabtu (karena cuaca buruk). Hingga akhirnya kitapun tiba di kawasan candi cetho, dan langsung memutuskan untuk cek in ke penginapan yang pertama kita lihat.




Penginapan sederhana, 50 ribu per 12 jam, tanpa air panas dan sarapan wheeew. Tapi untunglah kita mendapat welcome drink, handuk dan bed cover untuk selimut. Sayangnya ternyata di desa ceto kawasan sekitar penginapan tidak ada warung atau penjual makanan, maka kita pun terpaksa kelaparan semalamam.  Tapi pemandangan yang kita dapatkan sungguh luar biasa, kota solo gunung merapi dan merbabu terlihat sangat indah di atas sini. Apalagi di malam hari, lampu – lampu dan gunung terlihat seperti lukisan yang hidup.



















Pagi hari 27 Januari kita berniat untuk melihat sunrise sayang cuaca tidak mendukung, hujan turun cukup deras pagi itu. Akhirnya kita pun hanya berjalan – jalan saja. Kemudian kita menuju candi cetho dan berkeliling di candi cetho pagi hari itu, kali ini kita berkeliling hingga candi kethek. Sekitar pukul 10. Kita memutuskan untuk turun karena kita pasti akan banyak berhenti untuk berphoto, pada turunan pertama aku harus menuntun shaun sepedaku. Dikarenakan rem shaun blong, untuk selanjutnya aku menggunakan kaki dan sepatuku sebagai rem saat kita menuruni bukit dan perkebunan teh.






Dan sesuai dugaanku kita pun banyak berhenti untuk berphoto dan menikmati pemandangan, sempat bertemu dengan dua pengendara sepeda lainya.  Dan tidak jarang kita disapa orang – orang yang ternyata memperhatikan kita sejak sabtu kemarin :D . dikemuning kita berhenti untuk makan di suatu restoran yang terletak di kebon teh, sayang saat kita datang restoran penuh sehingga kita kehabisan gazebo yang berada di tengah kebon teh, tapi tidak apa kita tetap menikmati our brunch.





Namun sayang saat kita akan kembali melanjutkan perjalanan menuju candi sukuh, cuaca kembali tidak mendukung, hujan kembali turun. Maka kita putuskan untuk turun saja kembali ke solo, dan hujan pun ternyata makin buruk, dikaranganyar hujan sangat lebat disertai angin kencang menemani perjalanan kita hingga solo. Bahkan di solo pun hujan masih saja turun cukup deras hingga banyak genangan air bahkan banjir di beberapa tempat. 


Akhirnya kita pun tiba dirumah dengan basah kuyup, untunglah kita bias bebas mandi dan membersihkan diri sampai rumah. Perjalanan yang penuh tantangan karena cuaca, namun pengalaman yang kita dapatkan sungguh sangat berharga. :D
WH05.1402.2013 08.58
 

Gowes Semarangan


Meski sudah sering berkali - kali gowes keluar kota namun ternyata justru belum pernah menyambangi tempat - tempat menarik di kota semarang yang notabene sangat dekat dengan Kost dan juga kampus. bahkan hampir tiap hari aku lewati. salah satunya adalah kuil sam poo kong (sam po kong) Kelenteng Sam Po Kong merupakan bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He / Cheng Ho.. yang terletak di daerah gedung batu (simongan) semarang yang hanya berjarak sekitar 1.5 kilometer dari kost ku yang terletak di suyudono (pasar bulu) semarang.




Konon sebenarnya jenderal Zheng ho membangun sam poo kong bukanlah untuk klenteng namun sebagai masjid. karena jendral zheng ho adalah tiong hua muslim yang merupakan salah satu penyebar agama islam di semarang. namun karena bangunan yang mayoritas berwarna merah dengan bentuk yang mirip dengan bangunan banguna tiong hua lainya dan menganggap bahwa mayoritas kaum tinghoa  adalah kong hucu maka bangunan tersebut dikira klenteng. kita bisa menemukan mushola dibagian dalam klenteng.







untuk masuk ke dalam sam poo kong kita cukup membayar sejumlah 3000 (tiga ribu rupiah) bagi wisatawan domestik. kita bisa masuk kebagian dalam dan melihat - lihat juga mengambil gambar klenteng. namun untuk lebih masuk kedalam lagi (kuil ibadah) kita dikenai tiket lagi 20000 (dua puluh ribu perorang) cukup mahal memang, tapi mungkin ini agar orang mau berpikir kembali untuk masuk ke kuil pemujaan sebab dipakai untuk ibadah. ada juga persewaan kostum jika kita ingin berphoto ala para kaisar maupun putri.

selanjutnya tempat yang bisa dikunjungi yang terletak di dekat kost ku adalah "banjir Kanal Barat" yeaah sungai yang membelah semarang ini sekarang sudah mengalami revitalisasi, sudah dibangun sedemikian rupa sehingga lebih indah dilihat, dan juga dijadikan ruang publik terbuka.




last but not least, belum ke semarang kalau belum berkungjung ke Lawang Sewu. bangunan kuno yang merupakan bekas gedung stasiun tertua di Pulau Jawa ini terletak di kawasan Tugu Muda. aku hampir tiap hari meleawti bangunan ini untuk menuju kampus, namun belum pernah sempat untuk masuk kedalam . dan akhirnya kesempatan tersebut datang. dengan membayar cukup 5000 *lima ribu rupiah per tiket per orang, kita dapat masuk kedalam gedung lawang sewu.



didalam lawang sewu, terdapat ruangan - ruangan yang berisi diorama, blue print maupun sejarah perkereta apian di indonesia. selain itu kita juga dapat menguji keberanian kita untuk masuk menyusuri saluran air bawah tanah, yang konon menyambung hingga rumah sakit karyadi.